Senin, 03 November 2008

Lagu anak, antara idealisme komersialisme

. Senin, 03 November 2008

hari minggu kemarin, pas dengerin radio, ada satu topik menarik buat didengerin, lupa sih di radio mana.  Topiknya adalah kurangnya lagu anak-anak pada akhir-akhi ini.   Yang jadi pembicara adalah mas Bens Leo, seorang pengamat musik dan Mbak Putri Suhendro, seorang psikolog--dulu waktu masih tiap hari berangkat kerja naik bis, aku suka dengerin ceritanya dia jam 6 di radio, cerita anak2 hihihi, abis males pagi2 langsung dengerin hal2 yang berat.
Mas Bens bilang bahwa sekarang ini lagu anak sangat berkurang sekali, apalagi kalau dibandingin dekade 80-an dan 90-an.  Hal ini disebabkan sekarang ini yg lagi merajai adalah lagu pop, sehingga para produser enggan memproduksi lagu anak karena dianggap tidak komersil, rugi dan sebagainya.  Padahal sebenarnya masih lho pencipta lagu yang menciptakan lagu anak, tapi ya itu, tidak ada yg mau jadi produsernya. 
Demikian juga sebenarnya penyanyi2 cilik juga banyak bermunculan lewat lomba2 di tv, tapi setelah itu mereka tidak ada kelanjutannya, karena kembali masalahnya tidak ada prosedur yg mau menangani mereka.  Dan ada satu hal yg ironi, bahwa pada saat lomba2 penyanyi cilik itu, mereka membawakan lagu2 orang dewasa, bukan lagu anak.
Sementara itu mbak Putri Suhendro menyoroti bahwa lagu untuk anak2 itu mestinya gampang diingat, sederhana dan liriknya cenderung repetitif, tapi kemudian timbul satu pertanyaan, kenapa lagu2 orang dewasa yg liriknya cenderung panjang2 dan banyak, anak-anak kecil bisa menghafalnya...........kembali semuanya ke peranan media audio visual, terutama televisi, yang sangat berperan dalam memberikan tayangan yg sangat diingat anak-anak kecil.  Bagaimana kalo  gitu biar anak-anak itu tidak mendengarkan atau melihat lagu orang dewasa, mbak putri melontarkan satu pernyataan yg menarik untuk disimak, selain orang tua mengawasi saat anak-anak menonton televisi ataupun mendengarkan lagi di radio, orang tua sendiri juga harus PUASA melihat atau mendengarkan tayangan seperti itu ketika anaknya sedang bersama mereka.  Tapi disini masalah klasik muncul, orang tua akan bilang, mereka ingin melihat atau mendengarkan tayangan itu karena mereka butuh hiburan setelah capek bekerja...jadi..he he he.
Disamping itu supaya anak-anak itu suka sama lagu anak2, hendaknya lagu-lagu itu tidak bersifat menggurui, karena di jaman sekarang ini, sejak dari bangun pagi, anak-anak itu sudah dijejali dengan informasi yg berat, misalnya dari pagi mereka sekolah, abis itu les inilah, les itulah, sehingga mereka sampai dirumah itu sudah capek, jadi anak-anak akan suka mendengarkan lagu-lagu yang bersifat menghibur yaitu bercerita, sesuatu yang memang digemari anak-anak.  istilah psikologinya "play story".  
Nah karena sejak pagi anak-anak itu sudah dijejali berbagai macam informasi yg "berat", maka mereka menjadi melakukan screening inormation atau menyaring informasi, kalo mau dapet info yang berat mereka akan cenderung ogah untuk mendengarkannya, tapi kalo informasi itu ringan apalagi dalam bentuk cerita, anak-anak pasti akan dengan senang mendengarnya.  Nah disini bisa dimengerti, kenapa ada orang tua yang mengeluh "kenapa sih anakku itu kalau aku panggil, pura-pura tidaj mendengar ?" karena ya itu tadi ketika anak-anak itu mendengar panggilan orang tuanya mereka terlebih dulu akan menyaring informasinya, "oh, ibuku yang manggil, pasti aku di marahi. oh bapakku yang manggil, pasti aku akan diomeli"......nah lho........:)
ada satu hal yang lucu di perbincangan itu, ketika ada seorang bapak yang menceritakan, anaknya yang masih kecil bertanya kepadanya "Pak, apa benar perempuan itu racun" setelah dia mendengarkan lagunya the changcuter "RACUN". nah kalo si bapak tidak meluruskan yang dimaksud racun di situ kan report, jangan-jangan pas gede nanti si anak itu malah jadi homo karena di pikirannya perempuan adalah racun....hihihi

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Silahkan beri pendapat atau Komentarnya :)

 
pendapat-dan-opini.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by The Valley of Flowers in India of the Fractal Enlightenment