Dalam masyarakat kita, wong cilik diartikan sebagai masyarakat kebanyakan, yang tidak punya kekuatan secara sosial, ekonomi, politik dan sebagainya.
Nah salah satu yang termasuk dalam wong cilik itu adalah kamum buruh. Dulu pada saat kita menggenjot investor asing untuk masuk ke Indonesia, yang selalu dijadikan penarik adalah bahwa Indonesia itu banyak tenaga kerjanya, dan upahnya muuuuuuurah, makanya kemudian memang banyak investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, dimana kebutuhan hidup juga semakin meningkat, maka para buruh yang digaji murah ini menuntut kenaikan upah. dan mulai banyak demo.
Akhirnya para investor ada yang hengkang, dan mengalihkan investasinya ke negara yang sekali lagi menawarkan upah buruh yang murah seperti china ato vietnam.
Dalam hal ini memang dilema, kalo kita menawarkan buruh dengan upah yang murah, maka suatu saat mereka akan menuntut upah yang lebih tinggi, dan itu wajar, (tapi masak wajar sih buruh menuntut gajinya 3 juta per bulan.....) tapi kalo kemudian kita tidak menawarkan buruh dengan upah yang rendah, siapa investor yang mau datang ke sini, karena itu sudah hukum ekonomi, mendapat yang sebanyak-banyaknya dengan biaya yang serendah-rendahnya.
pada kasus lain yang menyangkut wong cilik ini adalah mereka ini dijadikan komoditas politik oleh partai. Ketika pemilu wong=wong cilik ini banyak dirangkul dan diberi janji-janji yang muluk, tapi begitu kampanye selesai, undang-undang bentukan anggota dewan yang mereka pilih tidak berpihak kepada wong cilik ini...Ada juga anggota dewan yang menanggapi rakyatnya dengan sebutan "you", rasanya terasa geli mendengarnya, apakah mereka memang fasih berbahasa inggris, ato memang hanya "you", "I" yang mereka tahu sehingga kata-kata itulah yang mereka ucapkan. Terlebih lagi dengan mengucapkan kata "you" itu rasanya kedudukannya lebih tinggi dibandingkan yang hanya wong cilik.
Sudah saatnya paradigma wong cilik ini diganti, karena pwngertian wong cilik itu melemahkan orang-orang yang disebut wong cilik itu, mereka ditarik ketika dibutuhkan, tapi dilepas, disombongin ketika sudah tidak dibutuhkan. Wong cilik seharusnya sudah jadi wong gedhe, karena mereka-lah yang membuat anggota dewan terpilih, dan seharunsya anggota dewan, seperti juga harapan yang dibebankan kepada PNS, mereka adalah pelayan masyarakat, sebagai penyalur dan aspirasi masyarakat, tapi mereka TIDAK LEBIH TINGGI dari masyarakat sehingga tidak perlu sombong mengucapkan "you" kepada masyarakat ketika masyarakat komplain, lha wong waktu kampanye saja mereka tidak berani bilang you, yah masih jaim, gitu-lo.....
Nah salah satu yang termasuk dalam wong cilik itu adalah kamum buruh. Dulu pada saat kita menggenjot investor asing untuk masuk ke Indonesia, yang selalu dijadikan penarik adalah bahwa Indonesia itu banyak tenaga kerjanya, dan upahnya muuuuuuurah, makanya kemudian memang banyak investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, dimana kebutuhan hidup juga semakin meningkat, maka para buruh yang digaji murah ini menuntut kenaikan upah. dan mulai banyak demo.
Akhirnya para investor ada yang hengkang, dan mengalihkan investasinya ke negara yang sekali lagi menawarkan upah buruh yang murah seperti china ato vietnam.
Dalam hal ini memang dilema, kalo kita menawarkan buruh dengan upah yang murah, maka suatu saat mereka akan menuntut upah yang lebih tinggi, dan itu wajar, (tapi masak wajar sih buruh menuntut gajinya 3 juta per bulan.....) tapi kalo kemudian kita tidak menawarkan buruh dengan upah yang rendah, siapa investor yang mau datang ke sini, karena itu sudah hukum ekonomi, mendapat yang sebanyak-banyaknya dengan biaya yang serendah-rendahnya.
pada kasus lain yang menyangkut wong cilik ini adalah mereka ini dijadikan komoditas politik oleh partai. Ketika pemilu wong=wong cilik ini banyak dirangkul dan diberi janji-janji yang muluk, tapi begitu kampanye selesai, undang-undang bentukan anggota dewan yang mereka pilih tidak berpihak kepada wong cilik ini...Ada juga anggota dewan yang menanggapi rakyatnya dengan sebutan "you", rasanya terasa geli mendengarnya, apakah mereka memang fasih berbahasa inggris, ato memang hanya "you", "I" yang mereka tahu sehingga kata-kata itulah yang mereka ucapkan. Terlebih lagi dengan mengucapkan kata "you" itu rasanya kedudukannya lebih tinggi dibandingkan yang hanya wong cilik.
Sudah saatnya paradigma wong cilik ini diganti, karena pwngertian wong cilik itu melemahkan orang-orang yang disebut wong cilik itu, mereka ditarik ketika dibutuhkan, tapi dilepas, disombongin ketika sudah tidak dibutuhkan. Wong cilik seharusnya sudah jadi wong gedhe, karena mereka-lah yang membuat anggota dewan terpilih, dan seharunsya anggota dewan, seperti juga harapan yang dibebankan kepada PNS, mereka adalah pelayan masyarakat, sebagai penyalur dan aspirasi masyarakat, tapi mereka TIDAK LEBIH TINGGI dari masyarakat sehingga tidak perlu sombong mengucapkan "you" kepada masyarakat ketika masyarakat komplain, lha wong waktu kampanye saja mereka tidak berani bilang you, yah masih jaim, gitu-lo.....
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat atau Komentarnya :)